

Herdiansyah, bocah 10 tahun asal Kabupaten Donggala, harus merasakan pahitnya ujian hidup sejak kecil. Ia lahir dari keluarga petani yang menggarap lahan milik orang lain. Setiap musim panen, Herdiansyah tak pernah ragu membantu orang tuanya di sawah. Namun, sekitar enam bulan lalu, tepat di bulan Juni, ia mulai merasakan sakit yang tiba-tiba menyerang matanya, menjadi awal dari cobaan baru dalam hidupnya.

Awalnya, rasa sakit di mata Herdiansyah terlihat sepele. Ibunya mengira hal itu hanya akibat terlalu lama bermain di bawah terik matahari. Namun, rasa nyeri itu semakin tajam dari hari ke hari, seperti tusukan pisau yang tak pernah berhenti. Bengkak pun muncul, membuatnya sulit melihat bahkan untuk membuka mata saja terasa berat.
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, kedua orang tuanya tetap berusaha membawa Herdiansyah ke puskesmas terdekat. Di sana, ia hanya mendapat pemeriksaan singkat dan obat sederhana. Sayangnya, keterbatasan fasilitas serta penanganan yang kurang cepat membuat keadaannya tak kunjung membaik. Setiap hari, Herdiansyah berjuang menahan sakit, sementara orang tuanya mencari cara agar sang anak tunggal bisa kembali sehat.

Herdiansyah didiagnosa penyakit Retinoblastoma ekstraokular adalah jenis kanker mata yang berasal dari retinoblastoma, sebuah tumor ganas pada retina yang biasanya terjadi pada anak-anak. Kondisi ini disebut ekstraokular ketika kanker sudah menyebar keluar dari bola mata ke jaringan di sekitarnya atau ke bagian tubuh lain, seperti tulang, otak, atau sumsum tulang belakang.
Seiring berlalunya waktu, dunia Herdiansyah berubah drastis. Ia tak lagi duduk di bangku sekolah, mendengarkan pelajaran, atau bermain bersama teman-teman. Dari dalam rumah kecilnya, setiap pagi ia mendengar derap langkah anak-anak yang lewat menuju sekolah dengan penuh keceriaan. Suara itu menusuk hatinya, menimbulkan rasa rindu yang sulit diungkapkan. “Bu, kapan aku bisa sekolah lagi?” tanyanya pelan. Ibunya hanya tersenyum tipis sambil mengelus kepalanya, mencoba menyembunyikan air mata yang hendak jatuh.

Di rumah kecil mereka, seakan tak ada yang berubah kecuali waktu yang terus berjalan pelan. Ayahnya membanting tulang di ladang, meski hasil panen sering kali tak cukup untuk makan sehari-hari, apalagi untuk biaya pengobatan yang memadai. Ibunya setia di sisi Herdiansyah, memijat kepalanya setiap malam sambil menatapnya dengan doa yang tak pernah putus, berharap Tuhan memberikan jalan kesembuhan.
Bagi Herdiansyah, luka ini bukan hanya di tubuh, tapi juga di hati. Sakit di matanya telah merenggut tawa, permainan, dan pelajaran yang dulu mengisi hari-harinya. Ia tak bisa lagi menikmati masa kecil seperti teman-temannya, namun semangatnya tak padam. “Aku pasti sembuh, Bu. Suatu saat nanti,” ucapnya dengan senyum tipis yang penuh harapan meski dibalut rasa perih.
Mari sama sama kita bantu Herdiansyah untuk sembuh!
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik